Follow by Email

Translate

Senin, 15 November 2010

NYARI IKAN




Ada banyak cara mencari ikan dan ada banyak jenis ikan yang diburu disawah dan sungai dalam masyarakat betawi Cengkareng dan Kalideres, musim pun sangat mempengaruhi cara dan alat menangkap ikan. Kadang ikan ditangkap dengan bantuan peralatan, kadang dengan tangan kosong. Ikan yang umum ditangkap di kali atau disawah/rawa adalah, gabus, kacolan, anak gabus, udang, cupang sawah, cenang, cere, sili, betik, betok, sepat, sepat siem, lele, lelendi, lindung (belut), keting,  tawes dan seren. 



 Ikan Sili


Jika datang musim hujan sehingga air kali dan sawah limpas ikan diburu dengan dok-dok, tanggok, jala dan  bubu. Dok dok merupakan alat penangkap ikan terbesar, rangkanya seprti gunting raksasa, dipadu dengan jaring halus, biasanya hasil tangkapan berupa udang kali dan ikan kecil lainnya.   Tanggok terbuat dari anyaman bambu tipis membentuk setengah lingkaran. Tanggok dipakai ‘nyerog’ ikan di pinggir sawah, di pinggir galengan atau dipinggir kali. Ikan yang di tangkap dengan tanggok umumnya ikan cere, cenang, ikan cupang sawah dan udang, kadang ada juga betik, betok dan sepat. Bubu meiliki bentuk seperti manusia, berpinggang. Terbuat dari bambu tingginya sekitar satu meter. Alat ini dipasang di air yang mengalir, jika ikan masuk ada bagian dalam bubu yang disebut “jep” yang akan menjebak ikan sehingga ikan tidak bisa keluar lagi. Selain ikan, hewan yang sering masuk bubu adalah ular, lindung (belut), koyop (yuyu kangkang) ciku-ciku (kumbang air)  dan kiong sawah yang hanyut terbawa arus air. Disamping bubu yang besar ada juga bubu kecil, terbuat dari batang bambu yang khusus untuk menangkap lindung (belut), bedanya, untuk menarik perhatian lindung bubu kecil ini diberi umpan didalamnya berupa cacing tanah, alat ini disebut katung. 


Jika tidak musim banjir mencari ikan bisa dengan pancing, teger, ngubek kali, nimba, nyirat, nyusug, ngobor dan ngobat (ngebius). Mancing ikan bisa di sungai, empang atau disawah. Sawah yang paling pas buat mancing apabila tanduran sudah cukup tinggi tapi belum keluar padi. Kegiatan ini  disebut  Ngetul atau ngedudul,  ikan yang ‘galak’ dan sering ‘nyamber’ pancing adalah  kacolan (gabus tanggung) dengan umpan kodok cina kecil, cangcilung (ulat bambu) atau gaang.   Ada juga betok rawa yang sudah hitam warnanya. Kadang gabus dan lele pun ikut nimbrung. Sebelum umpan dilempar, ada juga yang memberikan jampi-jampi agar umpannya cepat dimakan ikan. Jampinya-jampinya seperti ini : “dut serudut kaga dimakan sakit perut, guplok-guplok k***** manggut m**** nyaplok. 



Ikan Betik



Neger mirip dengan mancing, menggunakan joran dari bambu, tali pancing dan mata kail, bedanya joran teger hanya lima puluh senti panjangnya, dan dibuat lentur dibagian ujung. Dipasang sore hari dan di angkat  esok paginya, sesekali dikontrol malam hari untuk mengganti umpan yang sudah mati atau habis. Jadi neger tidak perlu di tunggu oleh si pemilik, teger ini dipasang dalam jumlah banyak. Neger dilakukan dipinggir sawah, dengan umpan kodok berud atau kodok cina kecil yang masih hidup atau ikan cupang sawah yang masih hidup, sehingga umpan jenis ini bisa bergerak-gerak dan menarik perhatian ikan gabus. 


Ngubek kali dan Nimba dilakukan apabila musim kering atau habis panen padi. Ngubek kali bisanya dilakukan secara beramai-ramai. Sedangkan nimba sawah dilakukan grup-grup yang terdiri dari dua,tiga atau empat orang. Nyirat biasanya dilakukan disawah yang sudah tidak ada jerami sisa panen. Air sawah yang agak dalam disirat dengan air, jika kebetulan didalam air ada ikan, maka ikan itu akan ‘mendem’ dan mngeluarkan gelembung udara kecil, airnya pun menjadi keruh, ikan yang ‘mendem’ ini akan mudah ditangkap dengan tangan kosong. Menangkap ikan yang ‘mendem’ bisa juga dengan susug, alat ini terbuat dari bambu, berbentuk lingkaran yang bagian atasnya mengecil, bagian bawahnya di tajamkan agar gampang masuk kedalam lumpur.  



 SUSUG


Ngobor dilakukan pada malam hari, dengan modal lampu karbit, kempis bambu atau korang  sebagai tempat ikan dan pedang sawah. Pada malam hari beberapa jenis ikan, seperti gabus, lele dan belut biasanya berada di permukaan air yang tidak terlalu dalam, baik disawah maupun di pinggir kali. Ikan yang sedang ‘ malang ’ (ngambang di air) ini langsung dibabat dengan pedang, kadang sampai buntung sehingga mudah ditangkap.  Yang terakhir adalah ngobat, meskipun kegiatan ini berbahaya dan terlarang karena menggunakan racun potassium yang dapat membunuh ikan dan hewan lainnya baik yang kecil maupun yang besar, tapi ngobat sempat populer, disamping murah dan tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk mengeringkan air (nimba), ikan pun tinggal dipungut saja karena sudah ‘teler’ terpengaruh racun potas. Ada juga cara menangkap ikan dengan nyetrum, menggunakan aliran listrik yang berasal dari aki maupun batrei, tetapi cara ini kurang populer. 


Itulah  salah satu kegiatan masyarakat Betawi Cengkareng dan Kalideres dimasa yang lalu, dalam memenuhi salah satu kebutuhan hidupnya, mencari ikan untuk lauk makan sehari-hari. Kini jangankan ikan, sawah tempat ikan hidup-pun tidak ada lagi, sudah berubah jadi perumahan, sementara kali yang dulu berair jernih dan menjadi tempat mencuci, mandi dan merupakan irigasi bagi sawah disekitarnya, kini jadi pembuangan limbah rumah tangga, airnya hitam dan kotor dengan sampah. Ikan dan belut apalagi ikan sili sudah sangat sulit ditemui, yang ada hanya ikan sapu-sapu  yang oleh para ahli lingkungan hidup, sering dijadikan indikator kandungan logam berat di dalam sungai. **** (adam moeslih 06112010)

3 komentar:

  1. bagus kang artikel mengingatkan cengkareng tempo doeloe..

    BalasHapus
  2. anak mandor buang mangatakan: Terima kasih bang sunaji yang udah mao ngelongok blog saya, cuma kumpulan tulisan romantisme kampung semoga ada hikmahnya

    BalasHapus
  3. Anak mandor Buang yang siapa ini yah,..saya kenal tuh bu mayang

    BalasHapus