Follow by Email

Translate

Kamis, 25 Desember 2008

Kampung Bambularangan

Keterangan tentang kampung ini sama persis dengan yang saya tulis di wikipedia dengan kata kunci "Bambularangan"


Bambularangan adalah nama sebuah perkampungan yang terdiri dari dua rukun warga yakni Rw 09 dan Rw 05, Bambularangan rw 09 masuk dalam wilayah Kelurahan Pegadungan, Kecamatan Kalideres, sedangkan bambularangan rw 05 masuk kedalam kelurahan cengkareng barat kecamatan Cengkareng, Keduanya dalam wilayah Jakarta Barat.
Secara geografis letaknya 106 42' 51" derajat bujur barat dan 6 8' 12" derajat lintang selatan, bambularangan berbatasan langsung dengan Pinggirawa disebalah barat, Menceng dan Pulo disebelah Utara, Utan Jati disebelah selatan serta Kampung Malang disebelah timur.
Diantara semua perkampungan yang melingkupinya bambularangan adalah perkampungan tertua menurut catatan sejarah yang ada, Kampung Bambularangan dibangun tahun 1889, setahun setelah persitiwa pemberontakan petani banten berhasil dipadamkan oleh Belanda dengan terbunuhnya pemimpin gerakan tersebut yaitu H. Wasid (ada yang memanggilnya dengan Waseh atau Wasith) ditikungan camara distrik Cilegon, Banten. Setelah meredam pemberontakan Belanda melanjutkan dengan penangkapan orang-orang yang dianggap terlibat, mereka yang tertangkap biasanya dibunuh atau diasingkan kewilayah terpencil di Indonesia.
Salah seorang yang terlibat pemberontakan dari distrik tigaraksa adalah SATIM, dia berhasil melarikan diri kearah Jakarta dengan menggunakan rakit yang dikayuhnya diatas saluran mookervart. Sungai Mookervaart merupakan sungai buatan yang dibangun tahun 1681, berupa sebuah kanal yang menghubungkan sungai Tji Sadane (Cisadane) dan Tji Angke (Kali Angke). Saat ini sungai tersebut merupakan bagian dari aliran Sungai Angke Pesanggrahan. Ketika Satim melintas disekitar sumur bor, dia merapatkan rakitnya, lalu melanjutkan perjalanan kearah utara. Sampai tibalah dia disebuah wilayah yang kontur tanahnya membukit dan banyak sekali ditumbuhi pohon bambu betung (Dendrocalamus aspers), bambu tali (Gigantochloa apus), bambu hitam(Gigantochloa atter), serta pohon ilalang (Impperianta sp).Oleh karena nya wilayah itu awalnya dinamakan benteng alang-alang, entah kenapa kemudian namanya berubah menjadi bambularangan. Menurut cerita orang-orang tua diwilah ini pada waktu itu siapa yang menebang pohon bambu tanpa izin maka orang terebut akan meninggal dunia, tapi hal itu merupakan cerita yang turun-temurun saja. Pada awalnya SATIM mendirikan rumah disebelah mesjid safinatul husna, setelah dirasa aman dia kembali ke tempat asalnya di tigaraksa untuk menjemput dua orang keponakannya yaitu KUNTARA dan MAIRAN, kedua orang inilah yang kemidian mengembangkan wilayah bambularangan dengan keahlian masing-masing, Kuntara yang ahli ilmu agama islam ditempatkan disebelah utara sungai mengurusi masjid safinatul husna, sedangkan Mairan yang ahli ilmu bela diri betawi SELIWA, ditempatkan disebelah selatan sungai. sampai saat ini keturunan mereka masih menempati sebagian besar wilayah bambularangan. Kebanyakan keturunan mereka kawin dengan masyarakat betawi cengkareng, kosambi, pondok pinang, pasar jumaat dan sekitarnya sehingga budaya mereka adalah percampuran antara budaya betawi san budaya tangerang. Orang bambularangan sangat menggemari lenong, cokek, gambang kromong, kasidahan dan tentu juga irama melayu dangdut, dahulu mereka adalah petani tetapi perkembangan jakarta memaksa mereka untuk beralih profesi menjadi pekerja, pedagang, buruh serta profesi lainnya, karena lahan persawahan mereka kebanyakan sudah menjadi perumahan.

Rabu, 24 Desember 2008

IN MEMORIAM MANDOR BUANG

 
Peristirahatan terakhir Mandor Buang


Berawal pada sebuah pagi, Baba, begitu beliau biasanya kami panggil sudah berpakaian rapi, setelan coklat seragam pegawai pemda. Seperti biasanya beliau memulai kesehariannya dengan rutinitas sebagai kepala lingkungan di wilayah kelurahan Pegadungan. “gua pengen ngeliat wa gojay disawah” begitu dikatakan baba pagi itu Entah angin apa yang menerpa baba sehingga dia tiba-tiba ingin kesawah, ini bukan kebiasaannya. Mungkin terkait dengan akan adanya pembebasan sawah-sawah diwilayah kami oleh sebuah perusahaan pengembang perumahan.

Gojay atau haji jaya adalah salah seorang sahabat baba. Kebetulan dia punya sepetak sawah yang letaknya tidak jauh dari rumah kami. Untuk mencapai sawah haji jaya, ada sungai kecil, irigasi untuk mengairi sawah disekitarnya. Disungai itulah baba terjatuh, dia ter peleset ketika hendak nyebrang. Potongan kayu ambon (samanea saman) yang dia pijak ternyata terapung, kayu itupun oleng, baba jatuh ke sungai. Tulang keringnya membiru karena terbentur batu kali. Celana dan sebagian bajunya basah kuyup. Akhirnya baba tidak masuk kerja hari itu.






Tidak ada firasat apapun bagi kami anak-anaknya soal peristiwa itu, bagi kami kejadian pagi itu adalah peristiwa biasa yang siapapun bisa mengalaminya. Tapi takdir rupanya berkata lain, malamnya baba sakit, panas-dingin. Kejaian pagi kemarin rupanya jadi pemantik kalau tubuh baba memang sudah rapuh. Pengabdiannya di OPR sebelum beliau menjadi pegawai negeri sipil banyak menguras fisiknya. Baba jarang tidur dan jadi perokok berat. Apalagi saat baba di OPR negara sedang diguncang peristiwa pemberontakan G 30 S PKI.

Semakin lama penyakit baba semakin parah, bukan lagi sekedar panas dingin, tetapi juga merambah levernya. Dokter menvonis baba menderita hepatitis B, bahkan hatinya sudah sirosis, membeku. Berbagai pengobatan sudah dilakukan baik secara medis maupun dengan pengobatan alternatif. Namun tidak membuahkan hasil. Kadang baba terlihat menderita sekali ketika muntah, mengeluarkan cairan hijau seperti cincau Lama-lama perut baba menjadi buncit. Akhirnya setelah sembilan bulan terbaring menderita, tepatnya tanggal 3 juli tahun 1988, hepatitis B yang mengerogoti hatinya, merampas baba dari ladang pengabdiannya sebagai orang tua kami. Baba meninggal. Kembali kepangkuan penciptanya, suara azan ashar belum lagi hilang gemanya, seiring dengan itu jerit tangis memecah dirumah kami, tangisan pilu mengiringi kepergian orang tua yang sangat kami cintai.